Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang kakek dengan benjolan di pipinya. Tentang berapa besarnya benjolan itu yaitu sebesar sekepalan onigiri (nasi kepal) pun ada.
“Apa yang musti saya lakukan, adakah cara
untuk menghilangkan benjolan ini ya? Setiap hari Kakek memikirkannya.
Pada suatu hari, Kakek pergi ke gunung
untuk mencari kayu bakar. Hari telah sore, dan sewaktu Kakek hendak pulang,
terdengarlah guruh bersahutan. Hujan pun turun dengan derasnya.
“Apakah ada tempat untuk saya berteduh
ya?,” kata Kakek sambil mencari-cari tempat berteduh, dan menemukan sebuah gua
di dekat situ. Kakek pun masuk ke dalam gua dan berteduh menunggu hujan
berhenti. Pada saat menunggu itu, akhirnya Kakek pun tertidur.
Serasa mendengar bunyi seruling dan
gendang, Kakek membuka matanya dan ia pun terkejut takjub. Dalam kegelapan di
tengah malam itu, di dalam gua di sekeliling api unggun yang berkobar-kobar
tampaklah raksasa berwajah merah dan biru yang sedang asyik minum sake. Juga
ada raksasa yang meniup seruling, memukul gendang dan menyanyi-nyanyi.
Kakek menjadi ketakutan dan bersembunyi
mengintip semua itu, tetapi sewaktu mendengar bunyi seruling dan bunyi gendang,
dan melihat tarian para raksasa itu, lama kelamaan kakek merasa senang.
Kemudian tanpa sadar Kakek pun ikut bernyanyi.
Suttokotonno suttenten
Kekkerokeeno paakapaka
Peppekepeeno hyaarahyara
“Hei lihat, di sana ada
manusia, seorang kakek-kakek.”. Para raksasa melihat tajam kepada Kakek
dengan wajah yang sangat menakutkan, tapi karena lagu Kakek sangat menarik.
“Wah, ternyata seorang kakek yang lucu.”
“Ayo bergabung minum sake di sini,” para
raksasa berujar.
Kakek karena perutnya terasa lapar,
“Halo, apa khabar?”, keluar menemui para raksasa dan ikut bergabung minum sake.
Tottokotonno tetteketen
Pukkupukupaano puukapuka
Reroreroreeno keerakera
Para raksasa merasa lucu, dan tertawa
bertepuk-tepuk tangan. Kakekpun merasa senang, dan lupa waktu yang terus
berjalan
Sementara itu, entah datang dari arah
mana, terdengar bunyi kokok ayam.
“Sebentar lagi akan subuh. Ayo kita berhenti duku untuk hari ini.”, salah
seorang raksasa berkata, dan raksasa yang lain berkata, “Kakek, terimakasih
telah menari dan bernyanyi, sangat menarik sekali. Kapan-kapan datang lagi,
ya?”
“Ya, nanti saya datang lagi,” kata Kakek, namun raksasa berkata, “Tapi, adakah
sesuatu yang bisa kami pegang untuk dijadikan jaminan, apabila ternyata tidak
bisa datang? Oh ya, kalau begitu titipkanlah pada kami benjolan yang ada di pipimu
itu,” berkata begitu, raksasa segera mengambil benjolan yang ada di pipi Kakek
Kakek langsung pulang ke rumah dengan
pipi yang sudah terasa ringan, kenudian bercerita tentang kejadian semalam
kepada kakek sebelah rumah.
Kakek sebelah rumah menjadi iri
mendengarnanya. Karena Kakek sebelah rumah ini pun memiliki benjolan di
pipinya.
“Saya telah mendengar sesuatu yang baik,
saya akan pergi ke tempat para raksasa, dan minta tolong mereka untuk
menghilangkan benjolanku ini, “ berkata begitu, berangkatlah Kakek sebelah
rumah ini. Kakek ini, persis seperti cerita yang didengarnya, menunggu di dalam
gua di gunung. Dan pada malam harinya, datanglah para raksasa untuk mulai
berpesta sake.
Kakek ini pun bernyanyi,
Doddekedendara doddekeden
Buubukugaagaa buudarabii
Derooderoodeedo geedageda
Tetapi lagunya sangat jelek.
“Lagu apa ini? Jelek sekali,” kata para raksasa dengan wajah yang ketus.
“Kalau begitu, coba menari!”
Kakek ini pun menari, tapi tariannya jelek sekali.
“Apaan sih, tidak menarik sama sekali. Ya, sudah. Kami kembalikan barang yang
dititipkan sebelumnya dan cepatlah pulang.” Berkata begitu, raksasa melemparkan
benjolan yang dijadikan jaminan oleh kakek yang datang sebelumnya, kepada kakek
sebelah rumah ini, dan menempel tepat di pipi satunya lagi yang tidak ada
benjolan.
“Aduh, benjolan di pipiku menjadi dua nih,” Kakek sebelah rumah ini menuruni
gunung, pulang ke rumahnya sambil menangis.
*** Pesan Moral ***
Kerakusan hanya
akan membawa bencana.
No comments:
Post a Comment